Friday, December 4, 2015

Nikmatnya Tinggal Bersama Mertua

"Wanita setelah menikah...
"Di keluarga sendiri seperti TAMU...
"Di keluarga mertua seperti Orang Luar...


Ungkapan yang memang benar dirasakan oleh sebagian besar wanita setelah menikah, meskipun beberapa laki-laki juga merasakan namun kadang tidak nampak.
Tidak sedikit dari mereka mengeluhkan rasa yang campur aduk saat mulai tinggal di rumah mertua.
Canggung, merasa tersudut, tidak nyaman dan merasa berat karena konflik batin yang tidak bisa diungkapkan. #halah
Berontak? tidak bisa.
Marah? bingung kepada siapa.
Menangis?
Yang dirasakan hanya berusaha kuat dan tetap bertahan demi orang yang dicintainya.
Stress? bisa jadi.

Rumah mertua, sebuah rumah dengan keluarga baru.
Sedemikian rupa butuh adaptasi dengan kondisi dan posisi serba baru.
Penyesuaian dibutuhkan untuk menumbuhkan situasi nyaman baik dari kita ke pasangan maupun kita ke mertua.
Seorang wanita rela meninggalkan kedua orangtua yang sudah menyayanginya sejak kecil..
Rela meninggalkan rumahnya yang merupakan tempat paling nyaman baginya.
Hanya demi menaati, membahagiakan dan mencari ridho Allah lewat suaminya.

Laki-laki sebagai suami, terkadang kurang peka terhadap tingkah wanitanya.
Padahal, jika dia tau perasaannya dan meredanya dengan cara mendekatinya secara lembut, pasti seorang istri akan merasa lebih baik. Jauh lebih baik.
Karena seorang istri hanya berharap suaminya yang akan menjadi pengganti orang yang menyayanginya dan menjadi tempat ternyamannya setelah meninggalkan rumahnya.

Namun apakah semua sama seperti itu?
TIDAK.

Banyak juga dari sebagian mereka yang merasa nyaman saat berada di rumah mertua karena sudah dianggap seperti anak sendiri.
Canggung? Mungkin iya, hanya saja dia merasa sudah nyaman dan bisa lebih menempatkan posisinya.
Namun, jika mertua baik dengan anak menantunya, kuharap tak ada yang semena-mena macam di sinetron.
Merasa acuh, tidak mau mengurus rumah tangga hingga pada menyerahkan anak untuk di asuh mertua. Kecuali jika ada hal yang syar'i yang tidak bisa ditinggalkan.

Lalu, bagaimana dengan aku? dan bagaimana dengan kamu?

Dalam Al-Musnad dan Shahih Ibnu Hibban disebutkan bahwa Nabi SAW bersabda, “Jika seorang wanita telah mengerjakan shalat lima waktu, berpuasa satu bulan, menjaga kehormatannya dan mentaati suaminya, maka akan dikatakan kepadanya, "Masuklah kamu ke dalam surga dari pintu-pintu surga mana saja yang kamu kehendaki’".

Seorang wanita ketika menikah, maka statusnya telah berubah menjadi seorang istri yang mana kewajibannya adalah menaati suaminya. Termasuk jika suami mengharapkan istri untuk menghormati orang tuanya dengan cara tinggal dan mengikuti aturan yang ada di rumah orang tuanya.
Kurasa, tidak masalah asalkan masih berada dalam tuntunan syariat Islam.
Jika setelahnya suami ridho dengannya, Allah telah menjanjikan surga untuknya para istri sholiha.

Bagaimana? tertarik?

Saat tinggal di rumah mertua, seorang wanita hanya perlu lebih sabar dan menekan nafsu emosinya.
Bukankah emosi hanya akan berujung pada ketidak baikan.
Bad mood, bersiteru dengan pasangan dan dampak buruknya adalah tidak akan pernah merasa nyaman.
Lalu, bagaimana bisa pasangan mendapat keharmonisan setelah menikah?
Ayolah, nikmati hidupmu selagi bisa.
Tak ada yang sia-sia di dunia ini. Semua ada balasannya.
Tinggal jalan mana yang akan kita pilih. Enak gak si?

Untuk itu, berikut beberapa saran dari teman agar tetap merasa nyaman dan tetap saling menghormati diantara menantu dan mertuanya.

1. Luruskan niat dan yakinkan diri.
Mertua juga merupakan orang tua kita, wajib bagi kita sebagai yang muda untuk menghormatinya. Untuk itu, siapkan diri dengan niat yang lurus dan yakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Buang prasangka buruk dan bersabarlah. Ingat, prasangka buruk datang dari setan dan setan tempatnya... udah tau kan? Ga pingin jadi temennya kan? So, sabarlah. Niat dan tekadlah dengan ikhlas.
"Bismillah...Aku pasti bisa jadi istri/anak yang baik".
(Semangatin diri aja, atau minta dukungan ke pasangan).

2. Lapangkan dadamu dan berbagilah.
Tinggal di rumah mertua anggap seperti di rumah sendiri. Tak ada batasan untuk alasan berbagi dengan hal-hal lumrah yang bisa dibagi. #belibet yak.
Contoh gampang aja, berbagi sabun mandi, odol ataupun makanan.
(Tenang aja, semakin banyak berbagi semakin berkah rizki yang Allah kasih)

3. Ketahui kebiasaan dan pelajarilah
Beda tempat beda adat. Itulah yang terjadi.
Mungkin kita biasa bangun siang, namun jika mertua biasa melakukan aktifitas di waktu pagi, apa kita harus bersikukuh dengan jadwal tidur molor kita. "NO!"
Pasti hasilnya tidak akan bagus untukmu, maupun untuk mertuanmu.
Ikuti saja apa yang biasa mereka lakukan dan kita juga belajar untuk mengikutinya.
Misal, bangun pagi dan mulai bersih-bersih, buat sarapan sampai pada membuka toko yang dimiliki mereka. (Ini asli contoh dari sahabat).
Berat? tidak akan, selama niat kita di atas sudah lurus.

4. Tahan Diri
Ini maksudnya apa? dari tadi bahasannya nahan terus. #eh
Hal ini masih berkaitan dengan no. 3.
Intinya, hindari kebiasaan yang memungkinkan untuk dianggap tidak lumrah dimata mertua.
Seperti nonton tv sampai larut, nyalakan musik kencang dan bikin seisi rumah gregetan.
(Plis dont, hargai dirimu agar orang lain juga menhargaimu)

5. Hormati yang Tua dan Sayangi yang Muda.
Udah jelaskan. Dalam hubungan antara manusia dengan manusia, hal ini sangat diperlukan.
Maksudnya sama, agar tercipta suasana keluarga yang harmonis.
Termasuk menjaga hubungan baik dengan saudara ipar, baik yang tinggal serumah atau yang jauh.
Rasulullah pernah ditanya soal saudara ipar, jawab beliau itu 'maut' (maksudnya berbahaya) yups meski sudah iparan,hubungan kita dengannya adalah mahram karena pernikahaan. Artinya ada kemungkinan kita bisa menikah dengannya seandainya terjadi perceraian dgn pasangan kita. Jadi tetaplah santun padanya, jaga pakaian yg islami, tidak berkhalawat dengannya, apalagi bercanda yg berlebihan.

Bagaimana? mudah ya ditulisnya.
Realisasinya yang susah. #hehe
Kawan, ingat. "Kamu tidak sendiri" (ini yang biasa pasangan ane bilang).
Ada Allah, ada pasangan kita dan asal kita baik, insya Allah semua akan baik-baik saja.
Jadi, jangan takut lagi untuk tinggal bersama mereka (mertua kita).
Jika hubungan kita dengan mereka sudah baik, maka "nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?"
Kamu akan merasa lebih nyaman dibandingkan tinggal jauh dengan mereka.

Last, Terima kasih terindah untuk suamiku yang selalu menguatkan dan mengingatkan demi kebaikan. I Love U.

2 comments:

  1. Catatan atau cerita ini menarik sekali di baca..
    Terima kasih kepada adminMimpi Naura atas ceritanya

    ReplyDelete
  2. Terima kasih @Iyan Qity uda baca2 dan ninggal jejak disini.
    Semoga bisa sedikit memberi inspirasi dan semoga hidupnya makin berkah.. selamat berbahagia

    ReplyDelete