Tuesday, May 12, 2015

Peran Perempuan dalam Keluarga

Di dalam keluarga perempuan dapat berperan sebagai ibu, istri dan anak. Semua peran tersebut menuntut adanya tugas sesuai dengan perannya yang mana peran tersebut juga merupakan keistimewaan mereka.
a.             Perempuan sebagai Ibu
Tidak ada kemulian terbesar yang diberikan Allah bagi seorang wanita, melainkan perannya menjadi seorang Ibu. Bahkan Rasulullah pun bersabda ketika ditanya oleh seseorang “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak untuk kuperlakukan dengan baik?” Beliau berkata, “Ibumu.” Laki-laki itu kembali bertanya, “Kemudian siapa?”, tanya laki-laki itu. “Ibumu”. Laki-laki itu bertanya lagi, “Kemudian siapa?”, tanya laki-laki itu. “Ibumu”, “Kemudian siapa?” tanyanya lagi. “Kemudian ayahmu”, jawab beliau.” (HR. Al-Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 6447).

Peran ibu sangat besar dalam mewujudkan kebahagiaan dan keutuhan keluarga. Sebagai ibu tugas perempuan yang utama ialah mendidik generasi-generasi baru. Mereka memang disiapkan oleh Allah untuk tugas itu, baik secara fisik maupun mental. Allah melatihnya sejak ia mengadung seperti rasa sakit, lemah, mual-mual, pusing atau berbagai keinginan aneh. Kemudian harus membawa janinnya kemana saja ia pergi. Latihan yang terberat adalah saat melahirkan, ia mempertaruhkan antara hidup dan mati. Mati syahid jika sang ibu melahirkan dan harus berakhir dengan kematian. Ketika latihan berat ini bisa dilalui dengan baik, maka tugas berat berikutnya juga menanti karena bersifat fisik dan psikologis.

Tugas yang melibatkan fisik dan psikologis ini tidak lain adalah tugas mendidiknya. Meskipun pada saat masih dalam kandungan juga sudah berkewajiban mendidiknya, namun tidak seberat setelah lahir. Mendidik anaknya setelah lahir membutuhkan waktu panjang, tenaga dan finansial. Tugas mendidik memang bukanlah tugas individu seorang ibu, namun perlu disadari bahwa ibu memiliki peran yang sangat besar. Ibu adalah guru pertama dan utama di rumah. Peran suami bersifat mengokohkan apa yang telah dibentuk ibu. Tergambar dengan jelas bahwa perlakuan orangtua, khususnya ibu menentukan protret karakter anak-anaknya.

Disamping mendidik karakter, juga memberikan bekal kepada anak-anak dengan mempertahankan dan mengembangkan kualitas iman; bekerja dengan baik (disiplin/meghargai waktu); berjuang bekerjasama menegakkan kebenaran dan bekerjasama menyebarkan kesabaran ( QS. Al Asr:).
Betapa besar peran perempuan sebagai ibu hingga Allah memberikan keistimewaan pada mereka, yaitu saat menjadi ibu surga berada di bawah telapak kakinya.

الْجَنَّة تَحْت أَقْدَام الْأُمَّهَات قَالَ رَوَاهُ أَحْمَد وَالنَّسَائِيّ وَابْن مَاجَهْ وَالْحَاكِم

“Surga itu dibawah telapak kaki ibu”. (HR. Ahmad, an-Nasaai, Ibn Maajah dan al-Hakim)
b.             Perempuan sebagai Istri
Perempuan sebagai istri memiliki peran yang sangat penting. Istri yang bijaksana dapat menjadikan rumah tangganya sebagai tempat yang paling aman dan menyenangkan bagi suami. (Alfan, tanpa tahun: 25). Wanita sebagai pendamping suami, secara umum bertugas memenuhi kewajibannya terhadap suami, mendukung/ mendorong semangat untuk keberhasilan suami dalam berbagai hal dan mendoakan suami. Sabda Nabi Muhammad saw: Pengabdianmu kepada suamimu adalah Shodaqoh ( HR. Dailami).

Dengan peran perempuan sebagai istri maka ada beberapa kewajiban istri terhadap suami. Kewajiaban pertama, adalah taat sempurna kepada suaminya dalam perkara yang bukan maksiat bahkan lebih utama daripada melakukan ibadah-ibadah sunnah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لاَ يَحِلُّ لِلْمَرْأَةِ أَنْ تَصُوْمَ وَزَوْجُهَا شَاهِدٌ إِلاَّ بِإِذْنِهِ

“Tidak boleh seorang wanita puasa (sunnah) sementara suaminya ada di tempat kecuali setelah mendapat izin suaminya.” (Muttafaqun ‘alaihi).

Kedua adalah menjaga rahasia suami dan kehormatannya juga menjaga kehormatan diri sendiri di saat suaminya tidak ada di tempat. Sehingga menumbuhkan kepercayaan suami secara penuh ke istrinya.

Ketiga menjaga harta suami. Rasulullah bersabda:

خَيْرُ نِسَاءٍ رَكِبْنَ الإِبِلَ صَالِحُ نِسَاءِ قُرَيْشٍ : أَحْنَاهُ عَلَى وَلَدٍ فِي صِغَرِهِ، وَأَرْعَاهُ عَلَى زَوْجٍ فِي ذَاتِ يَدِهِ

“Sebaik-baik wanita penunggang unta, adalah wanita yang baik dari kalangan quraisy yang penuh kasih sayang terhadap anaknya dan sangat menjaga apa yang dimiliki oleh suami.” (Muttafaqun ‘alaihi).

Keempat mengatur kondisi rumah tangga yang rapi, bersih dan sehat sehingga tampak menyejukkan pandangan dan membuat betah penghuni rumah.

Inilah peran yang seharusnya dilakukan bagi seorang perempuan. Menjadi seorang pemimpin bukanlah hal yang perlu dilakukan perempuan, akan tetapi menjadi pendamping seorang pemimpin (pemimpin rumah tangga atau lainnya) yang dapat membantu, mengarahkan dan menenangkan adalah hal yang sangat mulia jika di dalamnya berisi ketaatan kepada Allah Ta’ala. Sungguh istimewa seorang perempuan saat menjadi seorang istri karena ia telah menyempurnakan separuh dari agama suaminya.

Anas bin Malik radliyallahu ‘anhu berkata : “Telah bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam :“Artinya : Barangsiapa menikah, maka ia telah melengkapi separuh dari agamanya. Dan hendaklah ia bertaqwa kepada Allah dalam memelihara yang separuhnya lagi”. (Hadist Riwayat Thabrani dan Hakim).
c.             Perempuan sebagai Anak
Ketika belum menikah peran ini sudah sangat jelas yakni taat kepada kedua orang tua dalam hal kebaikan dan di dasarkan oleh perintah Allah SWT. Seorang anak perempuan sangat istimewa karena anak gadis yang masih perawan atau belum menikah sedang memikul tanggungjawab dan muru’ah (kehormatan) kedua ibu bapak walau kemana pun mereka pergi. Apapun yang dilakukan pasti akan menjadi perhatian orang sekeliling. Bahkan mereka juga mudah dijadikan bahan fitnah bagi mereka yang tidak tahu menjaga harga diri. Hal ini amat ketara dan bisa kita lihat pada anak gadis pada zaman modern. Kebanyakan mereka telah hilang rasa malu dan sopan serta kelembutan. Mereka bebas bergaul di kalangan kaum laki-laki dengan perbuatan yang menggairahkan dan berpakaian yang menampakkan aurat sehingga nampaklah lekuk-lekuk tubuhnya.

Apabila mereka telah menjaga muru’ah diri maka mereka telah meringankan beban kedua orang tua mereka. Bahkan mereka juga dapat menghindarkan diri daripada gejala sosial dan maksiat. Sebagaimana yang dapat dilihat hari ini berbagai kasus yang keluar di koran seperti pembuangan bayi, zina, dan rogol, itu semua adalah puncak dari keruntuhan akhlaq yang leluasa di kalangan anak remaja pada masa kini.

Peran anak perempuan yang begitu besar menjadikannya juga istimewa karena saat menjadi anak, maka ia membukakan pintu surga bagi ayahnya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ كَانَ لَهُ ثَلاَثَةُ بَنَاتٍ فَصَبَرَ عَلَيْهِنَّ وَأَطْعَمَهُنَّ وَسَقَاهُنَّ وَكَسَاهُنَّ مِنْ جِدَتِهِ كُنَّ لَهُ حِجَابًا مِنَ النَّارِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Barangsiapa yang memiliki tiga anak perempuan lalu ia bersabar atas mereka, dan memberi makan mereka, memberi minum, serta memberi pakaian kepada mereka dari kecukupannya, maka mereka akan menjadi penghalang baginya dari api neraka pada hari kiamat”.
dalam hadist yang lain Nabi bersabda:

مَنِ ابْتُلِيَ مِنْ هَذِهِ الْبَنَاتِ بِشَيْءٍ فَأَحْسَنَ إِلَيْهِنَّ كُنَّ لَهُ سِتْرًا مِنَ النَّار

“Barangsiapa yang diuji dengan sesuatu dari anak-anak perempuan lalu ia berbuat baik kepada mereka maka mereka akan menjadi penghalang baginya dari api neraka” ( HR Al-Bukhari dan Muslim).


"Note: Potongan dari makalah yang dibuat untuk tugas Al-Islam sem. 5.
Subhanallah, peranmu sebagai perempuan, sungguh Istimewa.

Semoga kelak, Allah perkenankan kita untuk melaksanakan peran sebagai perempuan dengan sebaik-baiknya, hingga mereka para bidadari merasa iri dan surga-pun merindukan kehadiran kita. Aamiin.

4 comments:

  1. T_T wuaaah unaaaa maaacih sudah ditag.. jempol tulisannya :D

    ReplyDelete
  2. ^_^ hehe sama-sama mba cantik, makasi dah mampir di blog punya ane.

    ReplyDelete
  3. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete
  4. Im so sorry to delete ur post @silvi :(

    ReplyDelete